Setiap hari Rabu menjadi hari belajar bagi para guru dan pegawai SD Hj. Isriati 1 Semarang. Waktu yang berharga bagi para pendidik untuk terus mengasah diri, meningkatkan wawasan, dan memperkuat karakter sebagai pendidik sejati.

       Pada tanggal 11 Juni 2025, Rabu kali ini terasa sangat istimewa. Para guru berkesempatan belajar bersama sahabat dari Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi SD Hj. Isriati Baiturrahman 1 Semarang bekerja sama dengan Hatimurni Private Education, yang dipimpin oleh CEO-nya dan selaku narasumber, Ustadzah Siti Khadijah, M.BA. Dalam pertemuan virtual ini, kami berdiskusi hangat seputar pentingnya adab dalam kehidupan anak-anak di era modern, serta berbagi praktik baik dalam penerapan nilai-nilai adab di lingkungan sekolah.

       Dalam Islam, adab bukan hanya tentang sopan santun, tetapi menyangkut keseluruhan sikap dan perilaku yang mencerminkan akhlak mulia. Bahkan, adab terhadap orang tua disebut sebagai adab tertinggi. Islam mengajarkan bukan hanya untuk taat, tetapi juga untuk bersikap lemah lembut, penuh hormat, dan menjaga hati mereka.

       Kisah-kisah para ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i menjadi pengingat bagi para siswa tentang pentingnya menjaga adab, baik kepada guru, orang tua, maupun sesama. Imam Malik yang selalu mengajar Hadits dalam keadaan Berwuduk atau dalam keadaan suci dengan pakaian yang terbaik, memuliakan hadits seperti memuliakan Rasulullah SAW, dan Imam Syafi’i tidak pernah duduk lebih tinggi dari gurunya selama belajar serta tidak pernah membuka buku di hadapan gurunya tanpa izin, tanda tunduk dan tawaduk.

       Era digital membawa banyak kemudahan, namun juga membawa tantangan tersendiri dalam pembentukan karakter anak. Budaya populer dan viral sering kali lebih menarik perhatian anak-anak dibandingkan nilai-nilai adab. Akibatnya, banyak anak yang lebih mengenal selebriti daripada Nabi dan rasul mereka. Beberapa permasalahan yang kerap dijumpai pada anak-anak zaman sekarang antara lain:

  1. Berbicara kasar saat menuntut hak
  2. Tidak menatap mata saat berbicara
  3. Tidak pandai menyambut tamu
  4. Menghormati orang karena kekayaan
  5. Menggunakan kata-kata kasar saat tidak setuju
  6. Membenarkan sentuhan yang tidak aman
  7. Tidak bisa berbagi dan memberi

       Masalah-masalah ini harus menjadi perhatian serius bagi orang tua dan guru. Maka dari itu, pendidikan adab harus menjadi bagian utama dari proses pembelajaran di sekolah.

       Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi, pembentukan adab dan akhlak anak menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, dan lingkungan sosial, termasuk media digital. Berikut beberapa adab dalam bermedia sosial di antaranya:

  1. Sampaikan yang benar, meskipun bergurau.
  2. Tidak menjadikan agama sebagai bahan gurauan.
  3. Menjauhi fitnah dan penghinaan. Jaga lisan dan tulisan dari hal yang menyakiti orang lain.
  4. Periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Jangan menjadi penyebar hoaks.
  5. Berhujah dengan fakta, bukan asumsi. Diskusi sehat didasarkan pada data, bukan emosi.
  6. Tidak membuka peluang dosa melalui unggahan. Konten yang kita sebarkan dapat berdampak besar pada banyak orang.
  7. Hindari bahasa kasar dan provokatif.
  8. Ikuti kebenaran berdasarkan dalil yang kuat, bukan berdasar apa yang disukai.
  9. Tidak mempolitisasi masalah yang justru menimbulkan perpecahan.
  1. Menjauhi sikap suka menyindir hingga menghina.

      Nilai-nilai moral tidak hanya dibentuk di sekolah, tetapi dimulai sejak anak membuka mata untuk pertama kali. Oleh karena itu, kolaborasi semua pihak menjadi kunci penting dalam membentuk generasi yang cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak.  Beberapa peranan penting orang tua dalam mendidik adab anak antara lain:

  1. Membuka kehidupan anak dengan kalimat tauhid. Mengajarkan “La ilaha illallah” sejak dini sebagai pondasi keimanan anak.
  2. Menjadikan rumah sebagai madrasah pertama
  3. Mencontohkan adab dalam komunikasi sehari-hari. Sikap sopan santun orang tua menjadi teladan langsung bagi anak.
  4. Mendidik dengan pendekatan penuh.
  5. Mengajarkan konsep halal dan haram sejak dini.
  6. Mewajibkan ibadah pada usia 7 tahun.
  7. Mengenalkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan Al-Qur’an.

       Seorang Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga panutan dalam beradab. Adapun adab seorang guru dalam mencerminkan kemuliaan profesinya diantaranya:

  1. Ikhlas dalam menyampaikan ilmu. Ilmu yang diajarkan dengan niat tulus akan lebih berkah.
  2. Menjaga tutur kata dan emosi di hadapan siswa.
  3. Mendoakan murid agar mendapat manfaat dari ilmu yang diajarkan.
  4. Bersabar dengan kekurangan murid. Tidak mempermalukan murid yang belum bisa adalah bentuk kasih sayang.
  5. Menghormati ilmu, guru terdahulu, dan institusi pendidikan.
  6. Menjadi contoh bagi murid-mudrid di antaranya datang tepat waktu, berpakaian sopan, dan bersikap adil menunjukkan integritas guru.
  7. Mengajar dengan kasih dan hikmah, bukan kemarahan.

        Belajar tentang adab, akhlak, dan nilai-nilai Islami merupakan ciri khas pendidikan SD Isriati, semoga kolaborasi ini dapat terus terjalin. Ke depannya kami berharap kerja sama ini tidak hanya melibatkan guru, tetapi juga siswa. Semoga para siswa-siswi bisa berbagi dan belajar bersama teman-teman dari Malaysia.

       Membina adab dan akhlak bukan tugas instan, tetapi perjalanan panjang yang dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, dan dijaga dalam kehidupan sosial, termasuk media digital. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang beradab, berilmu, dan berakhlak baik rahmatan lil’alamin.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *