Pada akhir semester I ini, Bapak Ibu guru karyawan SD Hj. Isriati Baiturrahman 1 Semarang mengikuti kegiatan ziarah rohani dan berbudaya. Rombongan mengunjungi berbagai lokasi bersejarah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga meningkatkan rasa hormat terhadap tokoh-tokoh penting dan nilai kebudayaan Nusantara.

     Ziarah dimulai di area Kota Semarang dahulu yakni ke makam KH Sholeh Darat menjadi sarana pembelajaran sejarah dan keteladanan. KH Sholeh Darat, yang memiliki nama lengkap KH Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani, adalah ulama besar abad ke-19 asal Semarang yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Beliau dikenal sebagai pendidik dan penulis yang menyampaikan ajaran Islam dengan bahasa Jawa beraksara Arab Pegon agar mudah dipahami masyarakat. KH Sholeh Darat juga merupakan guru dari sejumlah tokoh besar, termasuk RA Kartini, yang terinspirasi oleh pemikiran keislamannya yang mencerahkan.

      KH Sholeh Darat dimakamkan di Pemakaman Umum Bergota, Semarang, dan hingga kini makamnya sering diziarahi sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya. Kontribusi beliau bagi Kota Semarang sangat besar, terutama dalam meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat dan memperkuat tradisi keilmuan Islam yang membumi dan inklusif. Melalui ziarah ini, siswa diajak mengenal tokoh lokal yang berpengaruh sekaligus meneladani nilai keilmuan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada umat.

1. Ziarah ke Makam Hj. Isriati – Inspirasi Awal Kegiatan

      Perjalanan ziarah dimulai dengan penghormatan kepada sosok yang menjadi inspirasi nama sekolah kita, yakni Ibu Hj. Isriati.

     Ibu Hj. Isriati adalah istri dari Mayor Jenderal (Purn.) Moenadi, seorang tokoh militer yang pada masanya pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah sejak tahun 1966 sampai 1974.

    Ibu Hj. Isriati dikenal sebagai sosok pendamping yang penuh pengabdian dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial kala itu, dikenal memiliki perhatian besar terhadap pendidikan berbasis nilai keislaman, yang kelak menjadi dasar berdirinya lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Baiturrahman. Beliau juga penemu 10 gerakan PKK, dan beliau wafat pada tahun 1974.

      Lokasi makam Hj. Isriati terletak di area kompleks keluarga Moenadi, tepatnya di kawasan TK-SD Hj. Isriati Moenadi, Jl. Letjend Suprapto No. 29 Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

2. Ziarah Makam Mbah Mangli – Ulama Tasawuf yang Dihormati

      Rombongan kemudian berziarah ke makam Mbah Mangli, seorang ulama kharismatik yang terkenal di lereng pegunungan Magelang. Beliau bernama asli KH. Hasan Asy’ari, lahir sekitar tahun 1945 di Jawa Timur dan dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang menyebarkan ajaran tasawuf dan Islam secara luas. Nama “Mangli” sendiri diambil dari daerah tempat beliau tinggal dan berdakwah. Banyak masyarakat dari berbagai daerah berziarah ke makam beliau karena kharismanya dalam menyebarkan ajaran dan pengabdian sosial yang tinggi.
Makamnya berada di Dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, yang sejak lama menjadi tujuan ziarah religi bagi umat Islam.

      Di sekitar area pemakaman sanagat terasa sejuk layaknya di pedesaan. Kita tidak boleh memotret atau mengambil gambar makam mbah Mangli. Walau bukan fakta yang harus dipercaya secara mutlak, konon gambar yang dihasilkan akan hagus atau bahkan tidak terlihat apa-apa. Sikap yang paling baik adalah menghormati tempat ziarah, menjaga adab, dan mengambil hikmah dari keteladanan beliau.

3. Wisata Edukatif ke Pantai Parangtritis

      Rombongan juga mengunjungi salah satu pantai terpopuler di Yogyakarta. Pantai ini terletak sekitar 27–30 km di selatan kota Yogyakarta dan dikenal dengan pantainya yang luas serta pemandangan matahari terbenam yang indah.

      Selain keindahan alamnya, Parangtritis terkenal dengan legenda Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul), penguasa laut selatan yang memiliki hubungan mistis dengan keraton Yogyakarta dan masyarakat sekitar, sebuah cerita yang kini menjadi bagian dari budaya lokal yang menarik untuk dipelajari.

     Di pantai ini pengunjung tetap diperbolehkan memakai pakaian berwarna hijau. Namun, karena ombaknya cukup besar dan kuat, pengunjung diimbau untuk selalu waspada dan tidak bermain terlalu jauh ke tengah laut. Di kawasan pantai juga tidak terlihat aktivitas perahu.

Pantai ini juga menawarkan berbagai aktivitas wisata, termasuk menyusuri pantai dengan kuda, ATV, atau sekadar menikmati sunset yang eksotis.

4. Ziarah ke Masjid Agung Jogja / Masjid Gedhe Mataram – Jejak Kerajaan Mataram

     Perjalanan ziarah kemudian dilanjutkan ke Masjid Agung Mataram di kawasan Kota Gede, Yogyakarta. Masjid ini adalah salah satu bangunan Islam tertua yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam perkembangan kerajaan Islam di Jawa

      Masjid Agung Mataram di Kota Gede (Masjid Gedhe Mataram) dibangun pada akhir abad ke-16, berawal dari langgar sederhana sekitar tahun 1570-an pada masa Ki Ageng Pemanahan dan berkembang menjadi masjid kerajaan pada masa Panembahan Senapati. Masjid ini umumnya dianggap rampung sekitar 1587–1589 Masehi dan menjadi pusat keagamaan sekaligus simbol berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Pada masa berikutnya, terutama era Sultan Agung, masjid mengalami pengembangan dan tetap dipelihara hingga kini sebagai cagar budaya penting di Yogyakarta. Perbaikan besar setelah kebakaran pada tahun 1919 dan renovasi lanjutan pada tahun 1923–1926.

     Di sekitar masjid terdapat Kompleks Makam Raja-raja Mataram Kotagede, yang menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh awal Mataram Islam. Beberapa tokoh penting yang dimakamkan di kompleks ini antara lain Ki Ageng Pemanahan (pendiri cikal bakal Mataram), Panembahan Senapati (raja pertama Mataram Islam), serta Panembahan Seda ing Krapyak. Keberadaan masjid dan makam dalam satu kawasan mencerminkan tradisi Jawa-Islam, di mana pusat ibadah dan pemakaman raja menjadi satu kesatuan simbol spiritual dan kekuasaan.

     Para pendiri dan raja Mataram, serta keluarga mereka, dimakamkan di area sekitar masjid, yang menjadikan tempat ini sangat sakral dan penuh sejarah. Di area ini juga terdapat Sendang Seliran, sumber mata air yang menurut sejarah telah digunakan untuk ritual bersuci sejak era Panembahan Senopati.

     Perlu diketahui pula bahwa ketika memasuki area makam kerajaan atau ziarah tertentu di kawasan ini, masyarakat kadang dianjurkan menghormati budaya setempat dengan memakai pakaian adat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lokal.

     Beberapa wisatawan mengungkapkan bahwa tempat-tempat seperti makam Mbah Mangli dan kompleks makam raja-raja di Kota Gede tidak hanya menyajikan sejarah, tetapi juga aura spiritual yang kuat, mengajak setiap pengunjung untuk merenung dan menghormati jasa-jasa para leluhur bangsa. Pendapat ini bukan soal mistis dalam pengertian horor, tetapi lebih pada menjunjung dan menghormati budaya dan jejak sejarah panjang yang tertinggal di tempat tersebut.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *